ID | EN
Beranda Berita

BI: Perekonomian Kaltara Tumbuh 7,50 Persen di Akhir Tahun 10 September 2018 84

PENOPANG PEREKONOMIAN : Gubernur Kaltara Dr H Irianto Lambrie bersama Menteri BUMN Rini M Soemarno saat meletakkan batu pertama gedung RS Pertamina Tarakan, belum lama ini.

Neraca Perdagangan Surplus Rp8,97 Triliun

JAKARTA – Perekonomian Kalimantan Utara (Kaltara) pada triwulan IV atau akhir tahun 2018 ini diperkirakan tumbuh lebih baik, dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi Kaltara diperkirakan berada dalam kisaran 7,10 hingga 7,50 persen (yoy).

Demikian disampaikan Gubernur Kaltara Dr H Irianto Lambrie, sesuai Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Kaltara Agustus 2018 yang dirilis Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kaltara, belum lama ini. Peningkatan ekonomi itu, lanjutnya, dipacu oleh peningkatan kinerja lapangan usaha pertambangan dan konstruksi.

Khusus dari lapangan usaha pertambangan, komoditas batubara, diyakini, akan menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi Kaltara di triwulan IV 2018.

“Kinerja pertambangan diperkirakan membaik yang didorong kenaikan volume produksi batubara yang turut didukung oleh tren penguatan harga batubara. Selain itu, beberapa pelaku usaha pertambangan di wilayah Kaltara tetap optimis peningkatan produksi sejalan dengan membaiknya harga batubara sejak tahun lalu,” tutur Gubernur.

Percepatan pembangunan infrastruktur pun tetap menjadi penopang pertumbuhan ekonomi di Bumi Benuanta-sebutan Provinsi Kaltara-pada tahun ini. BI memprediksi, akselerasi pembangunan infrastruktur oleh pemerintah daerah diperkirakan akan tetap tinggi pada triwulan IV 2018.

“Beberapa proyek strategis baik dari pemerintah dan swasta seperti pembangunan PLTA Kayan Tahap I, RSUD Tipe B Tanjung Selor dan RS Pertamina serta jalan paralel perbatasan akan menopang pertumbuhan lapangan usaha konstruksi,” urai Irianto.

Tak itu saja, dari sisi pengeluaran, meningkatnya kinerja ekspor luar negeri dan investasi pada triwulan IV 2018 turut memberikan kontribusi yang positif terhadap perekonomian Kaltara. Meningkatnya kinerja ekspor luar negeri sejalan dengan kenaikan kinerja lapangan usaha pertambangan, terutama pada komoditas batubara yang menguasai pangsa ekspor luar negeri Kaltara. Harga batubara internasional diperkirakan masih berada di level yang tinggi sejalan dengan tren kenaikan harga minyak dunia. “Investasi diperkirakan tumbuh membaik yang didorong oleh peningkatan realisasi investasi bangunan dan non bangunan, baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun swasta terutama di akhir tahun sesuai pola historisnya,” jelas Irianto.

Secara kumulatif tahunan, BI menaksir bahwa ekonomi Kaltara tahun ini akan tetap akan tumbuh positif meskipun tidak sekuat tahun sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi Kaltara diperkirakan berada dalam range sebesar 5,80 hingga 6,20 persen (yoy). Melambatnya kinerja lapangan usaha pertambangan dipengaruhi oleh level kenaikan harga yang tidak setinggi tahun sebelumnya menjadi faktor utama perlambatan ekonomi Kaltara tahun 2018.

“Tren penurunan harga komoditas produk olahan sawit yaitu CPO turut berpengaruh terhadap melambatnya kinerja ekonomi Kaltara secara keseluruhan. Selain itu, di sisi pengeluaran, penurunan kinerja lapangan usaha utama berdampak kepada kinerja perdagangan luar negeri dan dalam negeri Kaltara yang tumbuh melambat di tahun 2018,” beber Gubernur. Dari sisi eskternal, outlook pertumbuhan ekonomi dunia dan beberapa negara mitra dagang utama Kaltara mengalami koreksi negatif.

 

NERACA PERDAGANGAN SURPLUS

Sementara itu, berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kaltara tentang perkembangan ekspor dan impor Provinsi Kaltara Juli 2018 pada 3 September lalu, diketahui pula bahwa neraca perdagangan Provinsi Kaltara tetap menunjukan nilai yang positif (surplus). Pada Juli 2018 neraca perdagangan ekspor-impor surplus sebesar USD 103,98 juta. Angka ini mengalami kenaikan dibanding neraca perdagangan pada Juni 2018 yang surplus sebesar USD 89,60 juta. Artinya, secara kumulatif dari Januari-Juli 2018 neraca perdagangan Provinsi Kaltara tercatat surplus sebesar USD 598,94 juta atau setara Rp8,97 triliun (mengacu kurs tengah BI 6 per 9 : Rp14.981).

BPS mencatat, nilai ekspor pada Juli 2018 berupa barang non migas mencapai USD 108,48 juta atau mengalami kenaikan sebesar 16,12 persen dibandingkan dengan ekspor Juni 2018. Bila dibandingkan dengan Juli 2017, nilai ekspor Kaltara Juli 2018

mengalami kenaikan sebesar 47,75 persen. Dan, secara kumulatif nilai ekspor non migas periode Januari hingga Juli 2018 mencapai USD 646,03 juta atau naik 27,54 persen dibanding periode yang sama di 2017. “ Seluruh ekspor dari Kaltara pada Juli 2018 adalah berupa barang non migas,” ungkap Irianto.

Sejurus dengan ekspor, nilai impor pun mengalami kenaikan. Adapun nilai impor Juli 2018 mencapai USD 4,50 juta atau mengalami kenaikan sebesar 17,61 persen dibandingkan dengan impor Juni 2018. Bila dibandingkan dengan Juli 2017, nilai impor Kaltara pada Juli 2018 mengalami kenaikan sebesar 4.078,19 persen. Dimana, secara kumulatif nilai impor Januari hingga Juli 2018 mencapai USD 47,09 juta, atau mengalami kenaikan sebesar 319,83 persen dibanding periode yang sama di 2017. “Seluruh impor Kaltara pada Juli 2018 merupakan komoditi barang non migas,” urai Gubernur.(humas)

 

Berita Terkait